Senin, 29 Maret 2010

Sama-sama KFC Kok Beda Rasa?


Hi, Sob. Kali ini kita masih ngebahas tentang franchise yang mutu antar tempat bisa beda. Beberapa bulan yang, pas lagi jalan-jalan bareng temen2 sekosanku di Bogor, kami mampir ke Pizza Hut. Entah kenapa aku ingin banget pilih KFC, awalnya mo ke Hoka-Hoka Bento, tapi nggak jamin kehalalannya jadi kita pilih ke Pizza Hut. Kami pilih menu pizza paket, biar lebih murah dan dapat nyicip aneka toping pizza. Kami juga pesan minuman dinging cos cuaca panas banget, Bro.
Nah singkat cerita, belum juga makanan habis, perut kami sudah kekenyangan, nggak sanggup ngabisin pizza. Rotinya sih lumayan empuk, tapi nggak berasa jadi malas makannya. Baru bentar dah eneg ni perut. Aku sempat trauma nggak lagi mo makan pizza. Rasanya kok gitu, sih nggak sesuai selera.
Kata si T, itu karena kita pesen yang model paket, kalo pesan yang tanggung pasti rasanya enak. Si T ni sudah sering makan pizza, dan rasanya emang enak jadi mungkin kami agak sial aja dapat pizza yang rasanya mengecewakan gitu. Aku nyoba lagi beli pizza yang ukuran seang, pesan ama si M, teman sekosanku juga yang lagi pesta makan di Pizza Hut bareng temen-temen volinya. Rasanya emang lebih enak sih daripada yang model paket gitu, namun masih nggak menggugah seleraku gitu deh.
Karena masih penasaran dengan masakan yang konon berasal dari Italia ini, aku coba pesan lagi lewat si T yang katanya lagi mampir ke Pizza Hut yang di Kalibata. Aku pesan ukuran sedang yang rasa jamur. Rasanya cucok, Bro. Wuenak tenan, nggak nyesel keluar uang hampir 100rb. Jadi emang yang di Bogor itu kelihatannya rasanya agak beda. Mungkin karena yang masak beda, jadi rasa juga ikut mempengaruhi meski resep sama persis.
Aku mencoba membuktikan lagi teoriku ini. Coba datang ke Pizza Hut yang beda lagi tempatnya, kali ini di Cibubur Junction. Dari segi rasa, lebih enak daripada yang di Bogor, tpai masih dibawah yang di Kalibata.
Jadi kesimpulannya sentuhan akhir dari tangan manusia inilah yang membuat rasa makanan dengan resep sama bisa beda rasa dan mungkin juga suasana hati sang pembuatnya. Beda sekali dengan barang buatan pabrik, serupa nyaris tak ada bedanya. Bisa dibilang keahlian manusia memang khas, unik, dan tak ada yang sama satu sama lain meski mereka dididik dengan pola yang sama, oleh orang yang sama dan tinggal di tempat yang sama. ^^

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda